Kamu tau kan didunia
ini ada banyak sekali perbedaan? Si kaya dan si Miskin, si Cantik dan si Jelek,
si Kurus dan si Gemuk, pokoknya yang seperti itu lah.. Nah, dari
perbedaan-perbedaan itulah timbul yang namanya perselisihan, lalu penyakit
hati.
Orang-orang disini
lucu, perkenalkan nama saya Juliet. Sebenarnya saya merasa biasa-biasa saja
dengan kondisi fisik saya, karna saya pun juga tak jarang melihat ada wanita
yang “lebih” daripada saya. Kesalahan saya, saya tidak pernah menghiraukan
kehidupan orang lain (orang-orang yang merasa posisinya selalu berada “dibawah”
saya) yang membuat orang tersebut memiliki kebencian yang begitu dalam dengan
saya.
Kejadianya berawal
saya mencoba mengadu keberuntungan di suatu kota besar di Indonesia. Saya hanya
seorang gadis desa yang mempunyai cita-cita dan harapan yang luas dengan bakat
yang saya miliki. Awalnya saya menolak untuk melanjutkan study saya dikota
tersebut karna satu dan banyak alasan, tapi keinginan saya untuk membahagiakan
kedua orang tua saya lah yang jadi pertimbangannya dan akhirnya saya menyetujui
tawaran untuk melanjutkan study saya dikota tersebut.
Beberapa bulan saya
melakukan percobaan karna saya masih ragu dengan keputusan saya meninggalkan
orang tua di kampung halaman, setelah beberapa bulan saya lalui, maka saya
mantapkan hati dan fikiran saya untuk pergi kesana untuk beberapa tahun. Selama
disana saya tinggal bersama Paman dan Bibi saya juga kedua orang anaknya sebut
saja Darla (23th) dan Rico (11th). Mereka anak-anak yang baik menurut saya
Darla sering membantu saya menyelesaikan tugas-tugas kuliah saya dan Rico
seorang gamers cilik.
Satu semester sudah
saya lalui disini semakin terlihat sifat asli mereka. Saya sendiri adalah
kemenakan dari paman saya dan bibi saya sedang mengalami penyakit yang serius,
yang menyebabkan hidupnya harus digantungkan dengan obat-obatan dari dokter.
Pernah sewaktu-waktu
saya sedang mengerjakan tugas dengan gadget saya dikamar saya, dilantai 2,
karna saya kurang begitu suka dengan kebisingan saat belajar. Saya hanya perlu
melakukannya bersama gadget dan iringan musik klasik dari dalam gadget saya dan
pada waktu itu saya lupa membawa minum, kemudian saya keluar dari kamar dan
hendak turun untuk mengambil soft drink saya tiba-tiba saya mendengar
percakapan bibi dengan Darla yg sedang berdiri membelakangi saya.
Saya sungguh
terkejut dengan apa yang saya dengar ternyata selama ini mereka tidak
benar-benar menginginkan saya berada disini. Kemudian muncul Rico dari sisi
lain dan ikut menyambung pembicaraan, mengeluarkan semua keluh kesahnya
terhadap saya. Semuanya jelas terdengar apa yang mereka benci dari saya, mulai
dari bakat saya dalam bernyanyi, fisik saya dan masih banyak lagi.
Saya benar-benar
tidak menyangka, sakit hati memang! Mereka yang sudah kuanggap saudara sendiri
tapi malah menyakiti saya dari belakang. Saya sendiri tidak tau apakah paman
saya tau tentang semua ini atau tidak, tapi sepengalaman saya selama syaa
tinggal disini, paman saya selalu mengikuti apapun kata bibi karna mungkin
paman merasa hidup bibi yang bisa hilang kapan saja dan mungkin juga untuk
menunjukkan bukti perasaan cintanya pada bibi, saya pun juga bisa memakluminya.
Seketika juga saat
saya mendengar keluh kesah mereka tiba-tiba ingatan saya mem-flashback semua
kejadian ganjil yang tidak pernah saya ambil pusing sebelumnya dan terjawablah
sudah. Satu persatu seperti saya paham sekali logikanya, mereka hanya
menafaatkan saya untuk menjadi seourang upik abu (budak) dirumah mereka. Saya
tidak terima! Lalu kemudian saya mencoba untuk berbicara dengan kedua orang tua
saya mengenai hal ini, saya ingin berhenti menyusahkan mereka dan harus belajar
mandiri.
Orang tua saya pun
menyetujuinya, tapi dua hari setelah persetujuan tersebut akan dilakukan
tiba-tiba saya mendapat telfon dari kepolisian di desa saya, yang mengatakan
bahwa ibu saya mengalami kecelakaan dan sedang berada dirumah sakit untuk
mendapatkan penanganan medis. Tak tau harus berkata apa tapi yang jelas saya
sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Saya mengabarkan paman dan bibi saya
tentang kabar ini, tapi mereka tidak perduli dan malah meremehkan kejadian ini.
Saya merasa sangat sangat sakit hati, mereka boleh menghina saya, mencela saya,
iri pada saya, tapi jangan dengan orang tua saya, yang monotonnya adalah adik
kandung paman saya sendiri.
Saya langsung pergi
kerumah sakit dimana ibu saya dirawat, dengan mata berkaca-kaca saya lihat ibu
saya sedang berbaring tidak sadarkan diri, dokter bilang ibu saya mengalami
benturan di kepalanya serta patah tulang pada bagian kaki dan harus segera di
operasi, tentunya dengan biaya yang tidak sedikit. Saya lihat adik dan ayah
saya masih setia duduk disamping ibu saya. Fikiran saya bingung dan kacau.
“Bagaimana bisa saya
bisa dapatkan uang sebanyak itu dan dalam waktu yang sangat cepat??” Untuk meminjam
pada paman dan bibi pun suatu hal yang mustahil untuk dikabulkan. Ayah saya
menunjukkan jumlah tabungannya yang tidak begitu besar tapi mampu untuk
meringankan beban saya sebagai anak sulung dalam keluarga saya. Saya tak akan
menyerah kepada nasib dan harus tetap berusaha!. Tak tau harus bagaimana saya
menjual semua barang-barang saya yang bisa terjual, gadget serta barang-barang
yang ada dirumah saya.
Setelah cukup segera
operasi dijalankan, lama kami menuggu di depan ruang operasi, 1 jam, 2 jam hingga
5 jam kami menunggu akhirnya dokterpun keluar dan mengatakan bahwa operasinya
berhasil. Kami sangat senang. Sambil menunggu ibu saya sadar, tiba-tiba seorang
pria paruh baya mengetuk kamar kami, lalu aku membukakan pintu. “Juliet???”
serunya, “Iya. Maaf dengan siapa??” ternyata pria tersebut dikirim sang manager
untuk mencari tau tentang saya dan melakukan penawaran rekaman pada saya. Sang
manager mengaku pernah mendengar saya bernyanyi dan tertarik dengan suara saya.
Mulai sejak itu saja
melanjutkan study sekaligus bekerja sebagai penyanyi, saat ini saya cukup
senang dengan apa yang saya miliki. Saya biasa membahagiakan kedua orang tua
saya, menyekolahkan adik-adik saya, membeli kendaraan pribadi, memberikan
mereka pakaian-pakaian yang bagus dan semua orang kini mengenal saya. Bahkan
kini saya menjadi donatur tetap di beberapa panti asuhan.
Bagaimana dengan
paman, bibi, Darla dan Rico? Semenjak paman dipecat dari kantornya, saya
membelikan mereka sebuah rumah di desa dan sebuah kendaraan pribadi untuk
mereka. Sedikitpun saya tidak menyimpan dendam dengan mereka, yang lalu biarlah
berlalu. Pada waktu itu saya hanya sedang berada di trowongan yang panjang dan
gelap, dan sekarang saya telah menemukan ujungnya dan terbebas dari semuanya.
Saya juga senang memiliki Romeo, yang sangat mencintai saya juga keluarga
saya..
Italy,
July 27th 1597
Juliet